Penulis: Alfiana Zulfa
Editor: Fauziah Akmal
Foto: Tempo

Sukoharjo – Di era digital saat ini perkembangan ilmu pengetahuan terutama teknologi informasi kian pesat. Petani dituntut untuk melek teknologi, mengingat media digital memudahkan akses segala bentuk informasi, tak terkecuali di bidang pertanian.

Petani muda yang tergabung dalam Koperasi Muda Nusantara Farm di Desa Sanggang, Bulu, Sukoharjo tepatnya di Embung Cerme berinovasi memasang QR Code pada setiap pohon alpukat. Tuntutan mengembangkan sentra buah menjadi desa wisata di Sukoharjo menjadikan para petani muda melakukan inovasi ini.

“Sebagai petani milenial, kami dituntut untuk mengembangkan sentra buah menjadi desa wisata di Sukoharjo dengan menerapkan digitalisasi. Salah satunya barcode digital yang dipasang di setiap batang pohon alpukat,” tutur Janu Hari Setiawan Wakil Ketua Koperasi Petani Muda Nusantara Farm, Selasa (9/11/2021).

QR Code berfungsi sebagai pendataan jumlah pohon dan berisi beragam informasi tentang deskripsi sentra buah alpukat, mulai dari menanam bibit, pemasaran hingga harga. Dengan memindai QR Code pengunjung bisa memperoleh penjelasan secara rinci. Pemasangan QR Code pada pohon alpukat juga sebagai media digital marketing.

Barcode digital dipasang di setiap batang pohon alpukat. Hal ini menjawab tantangan pemasaran produk dengan memanfaatkan pesatnya perkembangan teknologi informasi,” ujarnya.

Sentra budidaya buah ini memanfaatkan lahan lebih dari 20 hektare. Adanya pemberdayaan petani lokal melalui pendampingan petugas penyuluh lapangan (PPL) pertanian guna menanam ratusan bibit alpukat dan durian.

Beliau juga menuturkan bahwa sebagian pohon alpukat siap dipanen pada awal tahun 2022 dan akan dipasarkan di supermarket di Jakarta. Beliau memilih dipasarkan ke supermarket karena harga alpukat lokal yang masuk ke supermarket lebih tinggi ketimbang harga yang ditawarkan tengkulak.

Lanjutnya, setelah panen kami akan memberikan upah pada orang yang menanam bibit alpukat. “Siapa pun yang menanam bibit alpukat akan diberi royalti. Bisa berupa uang atau buah hasil panen. Misalnya, unsur forum komunikasi pimpinan daerah Sukoharjo yang menanam bibit alpukat. Maka royalti diberikan kepada bupati, kapolres dan pejabat daerah lainnya,” imbuhnya.

Djeno, Kepala Desa Sanggang, mengatakan pemerintah desa akan memfasilitasi para petani untuk mengembangkan potensi desa wisata buah alpukat yang menjadi unggulan di Desa Sanggang, Sukoharjo.

Sumber: https://m.solopos.com/petani-milenial-sukoharjo-go-digital-pohon-alpukat-dipasangi-barcode-1191652

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *