Penulis : Risa Evita Yunita Sari
Editor : Dea Erma Sintya
Foto : Bidiksinema

Formasi Institute Of Performing Art (FIPA) merupakan salah satu acara yang diselenggarakan oleh forum mahasiswa bidikmisi (formasi) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah UIN Raden Mas Said Surakarta. Acara ini dilaksanakan pada selasa, 19 Oktober 2021 yang bertempat di Graha UIN Raden Mas Said Surakarta.

Acara ini menampilkan bakat-bakat yang dimiliki oleh mahasiswa bidikmisi dan KIP kuliah UIN Raden Mas Said Surakarta. Seperti pertunjukan seni tari, seni rupa, dan screening film. Sebagai generasi z yang solid, kreatif dan berbudaya, dalam menyongsong era bonus demografi di masa pandemi, merupakan tema dalam acara FIPA.

Misbakhul Munir selaku ketua panitia FIPA menjelaskan makna dari acara ini, “maknanya kurang lebih seperti ini, kita sebagai generasi sekarang ini yaitu ingin mempersatukan persaudaraan diantara kita. Karena ini acaranya untuk umum juga, agar kita lebih solid dalam persaudaraan”, ujarnya.

“Untuk tema kreatif, karena disini kita juga mengkreasikan apa yang ada dipikiran kita. Untuk tema arts nya, kita juga menampilkan sejumlah tarian, bernyanyi, dan melukis”, lanjutnya.

Selain acara pertunjukan seni tari dan seni rupa, FIPA juga mengadakan screening film berjudul ‘MALA’ yang diproduksi oleh mahasiswa bidikmisi dan KIP kuliah. Film garapan mahasiswa bidikmisi dan KIP kuliah UIN Raden Mas Said Surakarta yang ketiga

Kurnia Ibrahim selaku sutradara dari film ‘MALA’ ini menjelaskan makna dari film ini. “Mala artinya sengsara yang diambil dari bahasa Jawa. Bahwa pemeran utamanya memerankan perannya dan diadegankan dalam film yang berjudul ‘MALA'”, Ujarnya

“Film yang mengisahkan seorang remaja yang mendapatkan permasalahan dalam keluarganya, dan mempunyai teman tongkrongan yang sehari-harinya melakukan kegiatan yang tidak baik. Dan akhirnya si pemeran utama melakukan hal-hal yang buruk karena merasakan hal yang tidak nyaman dirumah”, lanjutnya.

Dalam pembuatan film, pasti tidak selalu manis dan sesuai rencana di awal. Menurut dia, terdapat gangguan atau kendala yang dialami oleh para pemeran dan para kru dalam film ini. Kendalanya seperti kekurangan sumber daya manusia, anggaran, pengerjaan film yang memakan waktu sekitar 2½ bulan, dan perubahan cuaca yang tidak bisa diprediksi.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *